Tadi siang salah satu senior saya sempat bertanya,
Senior (S) : “Emangnya kamu gak tertarik punya kartu kredit?”
Si Cantik (SC) : “Mmm, gimana yah?”
Kartu kredit? Tagihan?
Hmmm…nampak menggiurkan. Beli ini, itu, ini, itu. Promo sana, sini, situ. Nampak menggoda. Tapi sepertinya agak ribet.
Sejak awal masuk ke dunia kerja, which is about 3 weeks ago, orang-orang yang ada di lingkungan saya, maksudnya senior-senior saya (secara yang junior cuma saya sendiri T__T), seringkali membicarakan mengenai kartu kredit. Yang dari bank inilah, itulah. Yang ngebahas promo terbaru, tawaran untuk membuat kartu kredit baru, sampai masalah tagihan beserta pembayarannya.
Saya, yang belum pernah memiliki kartu kredit, sedikit banyak penasaran dengan tujuan dan kegunaan dari kartu kredit, karena dari dulu, orang tua saya menanamkan kepada saya agar tidak usah memiliki. Kalau tidak punya uang untuk apa membeli? Itu sama saja berhutang. Kalau sudah terlilit hutang kartu kredit, susah urusannya. Bukan berarti orangtua saya pernah berurusan dengan debt collector kartu kredit atau semacamnya. Pun tidak berarti tidak memiliki. Ibu saya punya. Tapi itu dulu saat beliau masih bekerja dan hanya sekadar punya. Beda dengan Ayah saya yang memang tidak memiliki karena beliau memang benar-benar memegang prinsip diatas tadi.
Saya akhirnya bertanya kepada salah satu senior saya yang rupanya tidak hanya memiliki satu kartu kredit. Tiga, kalau tidak salah.
Si Cantik (SC) : “Mbak buat apa sih punya kartu kredit?”
Senior (S) : “Ya kalo aku sih buat misalnya ada keperluan mendadak dan saat itu aku gak ada uang cash”
Si Cantik (SC) : “Tapi bukannya bisa aja pake kartu debit?”
Senior (S) : “Loh kan tadi aku udah bilang, kalo gak ada uang cash, kartu debit itu kan sama aja uang cash kita di bank kan?”
Si Cantik (SC) : “Hmm..iya..iya” (mencoba mengerti sambil mengangguk-anggukan kepala)
Senior (S) : “Lagipula kan lumayan tuh kalo lagi ada promo. Nih contohnya (sambil memberikan beberapa katalog promo dari beberapa bank)”
Si Cantik (SC) : “Hmm..iya..iya..” (wah boleh juga nih promonya, mulai menunjukkan ketertarikan)
Setelah percakapan itu, saya dan si senior mulai sering membahas mengenai kartu kredit. Dia memberitahukan kepada saya, jika kartu kredit itu sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Dia pun menerangkan kepada saya mengenai berbagai macam jenis kartu kredit. Ada yang biasa, gold, platinum. Dia juga menerangkan berbagai istilah seperti minimum payment, annual fee, sistem bunga, tanggal cetak, de-el-el. Banyak deh. Saya saja sampai bingung mengerti sekian banyak istilah.
Dan rasa ketertarikan untuk memiliki semakin tumbuh.
Saya pun sempat berdiskusi dengan Ibu saya mengenai boleh tidaknya saya memiliki kartu kredit dan bagaimana pandangan beliau. Yes I am now officially a big city girl but still i have to obey what my mom says. Kan katanya mau jadi anak yang berbakti, hihihi. Awalnya Ibu saya sempat mempertanyakan tujuan saya memiliki kartu kredit, namun setelah saya jelaskan dan saya yakinkan bahwa saya hanya akan memiliki satu saja, Ibu saya pun memperbolehkan. Yes, i got approval from my dear mom! But, the next question is, which one yaaa? Ibu saya sih menyarankan agar saya memiliki dari bank pemerintah dengan aset terbesar. Mau tau alasannya? Karena salah satu tante saya (my mom’s sister) bekerja di sana sebagai wakil kepala cabang. Terus kenapa? Kayaknya alasan Ibu saya agak-agak tidak logis deh. Sementara senior saya bilang sebaiknya punya kartu kredit dari bank dimana kita memiliki rekening aktif, supaya lebih mudah untuk pembayarannya.
So, jadi sebaiknya punya gak ya?
Kalaupun punya, enaknya dari bank mana ya?
Duhhhh jadi pengen cepet-cepet punya nih apalagi setelah baca katalog promonya.
Tempting.
P.S : Senior saya bukan sales yang suka nawar-nawarin kartu kredit yang suka ada di mal-mal lho. Dia memang expert dengan urusan per-kartu-kredit-an ini. hihihi. Maap ya mbak sudah mencatut karakter mbak di blog saya

hmm gue juga pengen punya…tapi takut ga sanggup bayar…hehehe…aduh masih pengen punya niiih…
iya sis..gw jugaaa…
hmm, dilema:(
sangat berbeda sekali dengan nyokap gue yang punya dua kartu kredit dan bokap gue yang juga punya dua kartu kredit… nyokap gue malah udah nawarin gue sejak masih kuliah…hahahaha!
malah gue yang rada2 males karena gue pasti makenya jarang, cuma pas ngambil cicilan atau promo aja. rada males juga bayar administrasi 15.000 per bulan kalo jarang dipake mah..
saran gue lo jangan pake buat belanja bulanan atau belanja baju gtu. mending pake kalo lo mau nyicil, let’s say, tv atau barang2 lain yang ada promo bunga 0%. perhatiin juga tanggal pencatatan dan minimum pembayaran, sistem bunganya bulanan atau harian…yang penting disiplin, jangan cuma bayar minimum doang