Blogwalking sore ini membuat saya singgah di salah satu blog seseorang.
Beberapa postingnya cukup membuat saya terenyuh. Apalagi kalau bukan cinta. Cinta bertepuk sebelah tangan dan cinta yang dikhianati. Agak lebay ya bahasanya? Hehehe.
Orang ini menulis perjalanan cintanya. Ada yang berakhir dengan bertepuk sebelah tangan. Ada yang hanya bisa disimpan dalam hatinya saja. Ada yang berakhir dengan pengkhianatan. Dan yang berakhir dengan bahagia.
Membaca tulisan-tulisan tersebut, membawa saya untuk berpikir, akhir seperti apa sih yang paling menyakitkan dari cinta? Yang membuat seseorang frustasi semakin dalam hingga rela mengorbankan apapun demi cinta yang berbalas? Yang membuat seseorang kehilangan akal kemudian mati bunuh diri?
Buat saya, cinta yang paling menyakitkan adalah unspoken love. Cinta yang tak dapat diungkapkan, yang hanya bisa disimpan dalam hati hingga membuncah berarah tak tentu tujuan dalam ruang sempit tak berjeda. Kemudian pecah menjadi tangis tak terhenti.
Saat saya hanya bisa memandangi tanpa bisa menjamah. Saat rasa itu datang lagi, lagi dan lagi. Kemudian pecah lagi, lagi dan lagi. Berulang setiap pagi. Setiap hari.
Unspoken love rasanya lebih sakit jika dibandingkan dengan unrequited love. Rasa itu hanya saya yang tau. Hanya saya yang pendam dalam hati terdalam. Tanpa perlu orang lain tau.
Biarlah saya yang tanggung sesak dalam dada yang harus saya alami setiap saat.
Biarlah saya yang simpan rasa ini sendiri hingga hanya sakit yang merejang hati.
Unspoken love.
Bentuk cinta yang membuat saya mampu mengecap bahagia dan sakit pada saat yang bersamaan. Menikmati rasa sakit yang ditimbulkan oleh cinta. Tak apa, pun saya bahagia dengan sakit itu.
