Tagged with emosi

The Hell Part

Hari ini rasanya sedih banget. Saat semua orang udah boleh pulang, saya masih disini, di depan laptop mantengin angka-angka sambil update blog ini sebagai penghilang stress.

Udah tiap hari lembur tanpa ada jeda dan tanpa henti. Rasa-rasanya ini gak jauh beda sama kerjaan auditor. Lebih parah malah. Kalo jaman ngaudit dulu saya masih bisa dateng agak siang. Kerja juga ga se-efektif ini. Semua pembagian tugas udah dibagi dengan jelas. Ga ada tuh yang namanya ‘main badminton’ alias ‘lempar bola’. Kalo emang tugasnya si A, ya harus dikerjain sama si A sampe kelar. Sampe selesai. No excuse. Disini kerjaannya tumpang tindih, ditambah smash-smash dahsyat bikin saya dan beberapa teman lainnya babak belur. Bener-bener babak belur.

Keadaannya mungkin seperti mesin yang terus-terusan dipake tanpa ada jeda. Kelelahan amat sangat. Capek banget.

Mungkin memang semua salah saya yang memutuskan untuk pindah bagian dari bagian pada kali pertama saya ditempatkan disini. Di bagian yang pertama itu suasananya begitu santai. Datang pagi, kerja sebentar, makan siang, kerja lagi, pulang tenggo. Santai. Rutin. Membosankan. Yang akhirnya membuat saya dipindahtugaskan ke bagian ini. Bagian, yang kalo saya boleh bilang, neraka. Bagian yang bener-bener kerja rodi. Ditambah dengan auditor yang menyebalkan. Yang membuat saya bertanya-tanya, apakah dulu saat saya menjadi seorang auditor, saya juga segitu menyebalkannya? Perasaan sih tidak.

Hhhhhhh.

Not as what i expected before. Saya jadi ingin kembali ke bagian saya yang lama. Udah muak sama bagian neraka ini.

Bertanda ,

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit

Apakah uang seribu rupiah saat ini sudah tidak berarti lagi?

Baru saja saya berdebat dengan tukang parkir di RSCM mengenai durasi parkir dan nominal yang harus saya bayar. Tarif parkir disana Rp 2000 untuk sejam pertama dan Rp 1000 untuk tiap jam selanjutnya. Saya masuk ke RSCM jam 6.10 kemudian keluar jam 7.05. Saat saya keluar dan menyerahkan karcis parkir ke tukang parkir inilah timbul permasalahan.

Tukang parkir bersikeras bahwa saya harus membayar seribu rupiah lagi, saya pun bertanya untuk apa, karena durasi saya parkir hanya 55 menit. Abang tukang parkir pun berkata bahwa saya parkir sampai sejam. Oke, kalaupun saya parkir SAMPAI SATU JAM, kan saya sudah membayar Rp 2000 pada saat saya masuk tadi, jadi untuk apa saya membayar lagi?
Sampai disitu si abang tukang parkir berkata,”Ya elah cuma serebu doang!”.

Astaghfirullah, betapa mudahnya si abang tukang parkir berkata seperti itu! Bagi saya yang menjadi masalah bukanlah uang seribunya, tapi bagaimana si abang itu meng-korupsi tarif parkir. Bisa dibayangkan, rumah sakit sebesar RSCM pasti dikunjungi banyak orang yang membawa kendaraan, berapa kali seribu rupiah yang di’korupsi’ oleh si abang tukang parkir?

Uang satu juta bukanlah satu juta jika kurang satu perak.

Bertanda

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit

Apakah uang seribu rupiah saat ini sudah tidak berarti lagi?

Baru saja saya berdebat dengan tukang parkir di RSCM mengenai durasi parkir dan nominal yang harus saya bayar. Tarif parkir disana Rp 2000 untuk sejam pertama dan Rp 1000 untuk tiap jam selanjutnya. Saya masuk ke RSCM jam 6.10 kemudian keluar jam 7.05. Saat saya keluar dan menyerahkan karcis parkir ke tukang parkir inilah timbul permasalahan.

Tukang parkir bersikeras bahwa saya harus membayar seribu rupiah lagi, saya pun bertanya untuk apa, karena durasi saya parkir hanya 55 menit. Abang tukang parkir pun berkata bahwa saya parkir sampai sejam. Oke, kalaupun saya parkir SAMPAI SATU JAM, kan saya sudah membayar Rp 2000 pada saat saya masuk tadi, jadi untuk apa saya membayar lagi?
Sampai disitu si abang tukang parkir berkata,”Ya elah cuma serebu doang!”.

Astaghfirullah, betapa mudahnya si abang tukang parkir berkata seperti itu! Bagi saya yang menjadi masalah bukanlah uang seribunya, tapi bagaimana si abang itu meng-korupsi tarif parkir. Bisa dibayangkan, rumah sakit sebesar RSCM pasti dikunjungi banyak orang yang membawa kendaraan, berapa kali seribu rupiah yang di’korupsi’ oleh si abang tukang parkir?

Uang satu juta bukanlah satu juta jika kurang satu perak.

Bertanda

Mati Lampu (lagi, lagi dan lagi!)

Kesel deh saya!
Bayangin aja, seharian ini listrik di rumah saya tiga kali turun alias ngejepret! Hal ini terjadi bukan karena kesalahan PLN, tapi karena beban listrik di rumah saya yang berlebihan!
Kok bisa? Ya bisa karena di rumah saya menerima kos-kosan yang mana tiap penghuninya bebas membawa peralatan elektronik without any charge at all!
Baik ya ibu saya? Iya baiknya sama anak kosan! Tiap kali listrik turun, pasti saya yang disalahin. Gara-gara saya internetan seharian lah, gara-gara saya nonton tivi mulu lah. Hhhh.
Knapa bukan anak kosan si yg disalahin?? Jelas-jelas mereka itu yang make listrik ga kira-kira! Yang masang laptoplah, yang masang kipas anginlah, yang masang hair dryer, yang ini, yang itu!
Keseeeelll gara-gara listrik turun mulu!
Bete-bete-bete!

Dah ah, mendingan saya tidur aja..

Eniwei, gutnait ppl..

Bertanda

Iya deh kalian gaul. Kalian ‘famous’. Kalian orang-orang yang suka ‘menjajah’ kursi di kantin. Kalian yang lebih suka berkumpul dengan sesama kalian. Kalian yang-dulu-hampir-saja menjadi bagian dari hidup saya. Kalian yang tanpa kalian sadari suka dan sering ‘makan-teman’. Kalian yang dulu sempat membuat saya tergabung dalam lingkaran ‘hedonisme’ kalian. Kalian yang akhirnya meninggalkan saya dan menggunjingkan dan akhirnya menikam saya dari belakang. Kalian yang merasa kalian hebat and always be number one tapi nyatanya nol besar.

Tau ga sih, kalian tuh sebenernya munafik!
Kalian tuh manusia-manusia hipokrit!

Apa saya sirik atau iri melihat kalian?
Dulu saat kalian tinggalkan saya dibelakang dan kemudian menikam saya, IYA.
SAKIT HATI, tepatnya.
Tapi sebenarnya saya bersyukur karena saya tahu semua kebohongan kalian. Kemunafikan dibalik segala canda tawa yang kalian pertontonkan didepan khalayak ramai.
Apa kalian pikir orang kagum dengan kalian? Lalu kemudian mereka menjadikan kalian sebagai ‘role-model’? NO! A big NO! Who the hell are you guys?! Do you think you’re paris hilton or mischa barton?? Hell no! Ngaca dong ngaca!

Cuih! Taik kucing lah kalian! Kelaut aja gih!

btw, kalo kalian baca blog saya, tau gak arti munafik dan hipokrit?
cari tau dong, jangan cuma bisa ngomongin orang!

Bertanda
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.